Aditya Daniel

A Moody Guy, save me if you can.

Ada saat engkau begitu menenangkan.. Ada pula saat engkau begitu menegangkan.. Tapi, bolehkah yang kuingat hanya saat menyenangkan ? :’)

—(via twistofmine)

Dari Kejauhan - Kamu tak perlu bersusah payah mencariku, aku selalu berada di tempat yang sama, di tempat di mana aku pernah tersenyum bahagia untukmu.

Ada yang melepaskan sebuah pelukan dengan luruhnya air mata, sedangkan yang lain berharap sesegera mungkin menyudahinya. Pelukan bak pedang bermata dua, terkadang menentramkan sedang dilain waktu bisa menyesakkan.

Senyaman-nyamanya sebuah peluk, ia takkan benar-benar nyaman jika menjadi sesuatu yang paling akhir.

Aku ingin kita jatuh cinta dengan sederhana, tanpa kata, cukup dengan dua bola mata yang saling bertatapan sambil mengurai beribu-lembar doa akan kita selamanya.

Beberapa orang mungkin lupa menghargai sebuah pelukan sementara orang lain terus mengingat bagaimana nyamannya dipeluk oleh orang yang menyayanginya.

—(via babikbinal)

Kamu mengajariku untuk jatuh cinta, tapi celakanya kamu lupa mengajariku untuk bangkit lagi setelah terjatuh.

Ada saatnya kita menyerah, bukan karena kita tak lagi kuat memperjuangkan tapi kita tahu bahwa sadar diri itu tetap diperlukan.

Bagianku bukanlah yang akan memelukmu saat bahagiamu terlalu melimpah ruah. Bagianku adalah yang melihatmu dari kejauhan dengan senyum, juga dengan mata yang basah.

Sebuah Pesan dari Nusa Tenggara.

Masih belum terbiasa merindukanku? Atau mungkin belum mampu melupakan kepahitan masa lalu? Ah sudahlah, biar aku saja yang rindu. Bagaimana harimu di sana? Masih tetap menghabiskan hari untuk sebuah cita-cita? Selamat berjuang! Aku masih tetap sama, tenggelam dalam kesibukan yang sama, pekerjaan yang sama, rindu terhadapmu yang tak juga berbeda. Jaga diri disana.

Kupang, 30 April 2012

Daniel Aditya Istyana